Replika Sekolah Laskar Pelangi & Bendungan Pice

dsc00051-copy

Bandar Udara Internasional H.A.S Hanandjoeddin, di Tanjung Pandan gerimis. Sesaat setelah pesawat yang membawa kami dari terminal 3 Soekarno Hatta di Cengkareng, mendarat. Langit memang sudah mendung, dari sejak kami masih di angkasa. Sesaat setelah mengurus satu koper milih mama papa, kami bergegas keluar. Bang Kandar, pemilik mobil yang hari ini kami sewa, sudah menunggu dengan kacamata hitam yang bertengger dikepalanya. Sekilas, tampangnya mirip dengan penyanyi Ahmad Dani, lho đŸ™‚

Kami menuju hotel, untuk menaruh barang-barang. Meski masih pagi, ternyata kamar yang kami sewa kosong, jadi kami bisa langsung masuk.

Tujuan pertama hari ini, adalah Manggar. Ibu kota Kabupaten Belitong Timur yang terkenal dengan kopi nya. Belum, kami belum akan ngopi-ngopi sepagi ini. Kami akan berkunjung ke replika sekolah Laskar Pelangi. Untuk yang belum membaca novel karya Andrea Hirata ini, mungkin bingung. Kenapa replika sekolah di kunjungi?

Dalam cerita Laskar Pelangi, sekolah SD Muhammadiyah Gantong, yang replikanya kami kunjungi, adalah sebuah sekolah swasta dan “jelek”. Siswanya hanya ada beberapa orang. Namun, kegigihan dari seorang guru perempuan disana, membuat sekolah itu menjadi sebuah tempat yang “kramat”. Tempat harapan dan cita-cita digantungkan. Tempat dimana sesuatu yang kecil, menjadi sangat besar.

Bangunan kayu itu, berdiri hampir roboh diatas pasir putih. Ditengah-tengah gundukan pasir yang agak lebih tinggi dari sekitarnya. Menghadap langsung ke jalan raya. Sebuah papan nama berwarna hijau, menggantung pada rangka depan bagian tengah. Atapnya, terbuat dari seng yang sudah hampir karat seluruhnya. Ada tiga ruang dengan kursi-kursi kayu tempat belajar. Dindingnya juga dari kayu. Sementara ventilasi bagian atas dinding, berupa kayu-kayu yang saling silang hampir 1/3 dinding. Dua kayu besar, menopang dinding luar sebelah kanan bangunan. Ada gazebo kecil tempat berteduh, di sisi sebelah kiri dari gedung utama.

Lapangan pasir putih, terhampar menjadi halaman. Sebuah gerbang masuk dari kayu gelondongan, membingkai tempat ini dengan manis. Di bagian belakang, ada danau-danau bekas penambangan timah yang sudah tidak dipakai dan terisi air.

Pemerintah Kabupaten Belitong Timur, kini sudah menata kawasan ini. Pengunjung dikenakan tarif Rp. 2000,-/orang untuk bisa masuk ke dalam kawasan. Dibagian luar, tersedia berbagai macam cindramata dan kudapan khas Belitong.

dsc00060
Kami, kemudian melanjutkan perjalanan ke Bendungan Pice di Lenggang, Kec. Gantong, Belitung Timur. Jarak tempuhnya hanya kurang dari 30 menit dari Sekolah Laskar Pelangi.

Bendungan peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1934 hingga tahun 1936 ini, merupakan daya tarik wisata baru di Belitung Timur. Nama Pice, diambil dari sang arsitek asal Belanda Sir Vance. Dengan panjang sekitar 50 meter, dan pintu air berukuran 2.5 meter, pemandangan bendungan Pice sungguh menarik hati.

Jaman dulu, Bendungan Pice dipergunakan untuk mengatur debit air guna memudahkan sistem kerja kapal keruk untuk melakukan eksplorasi timah. Bendungan di hulu sungai Lenggang ini, sekarang memang tidak digunakan demikian. Sebagai lokasi wisata alternatif, Bendungan Pice bisa dimasukkan kedalam list wisata anda jika berkunjung ke Belitung. Pengunjung tidak dikenakan tarif untuk masuk ke lokasi ini. Dan, kawasannya pun cukup bersih ketika kami berkunjung. [ibm0217]

bersambung …

Advertisements
Tagged , , , ,

2 thoughts on “Replika Sekolah Laskar Pelangi & Bendungan Pice

  1. winnymarlina says:

    kalau ingat belitong malah suka dengan kopinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: