Suatu Sore di Lubang Buaya

IMG_20160903_154810

Mendengar kata Lubang Buaya, mungkin banyak dari kita yang langsung tertuju pada sarang hewan buas pemakan daging, dengan gigi tajam seperti di film-film. Namun, yang saya maksud disini, Lubang Buaya adalah nama daerah di Jakarta Timur, yang dikenal dalam sejarah Republik Indonesia, dengan sumur tua tempat peristiwa G30/SPKI tahun 1965 terjadi.

Sejarah Indonesia, mencatat tentang sebuah peristiwa penting, yang mengakibatkan terbunuhnya beberapa Jendral dan perwira, pada tahun 1965. Peristiwa itu, dikenal dengan nama G30S/PKI atau Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia. Para Jendral dan perwira itu, di jemput dari rumahnya masing-masing, dianiaya, dan dibunuh, kemudian dimasukkan kedalam sumur tua sempit yang ada di Lubang Buaya.

Museum Penghianatan PKI di Lubang Buaya, dibuka untuk umum dengan tiket masuk yang, saya sendiri tidak tau pastinya. Hanya saja, ketika kami datang, satu mobil dengan 4 orang dewasa didalamnya, dimintakan Rp. 20.000,-, tanpa tiket. “ Sudah termasuk parkir yah,” ujar penjaga pintu masuk, berseragam biru tua menyerupai seragam satuan keamanan itu. Pun, tidak ada penunjuk, berapa tiket masuk resmi yang biasanya ditempel pada kaca seperti umumnya lokasi wisata.

Mobil

Melewati pintu gerbang, tempat kami membayar ongkos masuk tadi, jalanan dengan rimbun daunan dan udara segar menyambut. Dekat pelataran parkir, ada dua mobil tua dipajang dengan dirantai. Salah satunya, milik Jendral Besar A. Yani. Ada museum Penghianatan G30-S/PKI, dan ada satu bangunan baru disebelah utara.

Melewati pagar, ke arah timur, kita akan melewati lapangan Upacara, kemudian akan menjumpai sebuah Gazebo dan beberapa bangunan lain. Bangunan Pertama, berisi diorama, dengan ukuran patung 1:1, berisi kejadian saat penyiksaan Jendral S. Parman, yang dihantam kepalanya dengan popor senjata laras panjang. Suara dalam speaker yang menerangkan tentang kejadian itu, membuat merinding bulu kuduk. Jadi terbanyang, bagaimana suasana asli pada saat kejadian.

Diorama

Gazebo tanpa dinding, adalah tempat sumur tua terletak. Sumur itu, yang dipakai untuk mengubur jenazah para Jendral yang menjadi target PKI. Lalu, monumen Pancasila Sakti berdiri kokoh dibelakang sumur tua itu.

Dibagian lain, ada dua bangunan lain, yang merupakan markas dan dapur umum. Serta ada sebuah truk tua, untuk mengangkut pasukan Cakrabirawa yang menjemput para Jendral tersebut.

Sore itu, kawasan monumen tidak terlalu ramai. Suasana yang sejuk dengan pohon-pohon besar, dan semilir angin yang berhembus, membuat suasana mistis yang menggebu-gebu.

Markas

Untuk mencapai lokasi dengan kendaraan umum, pengunjung bisa menggunakan Bus Trans Jakarta jurusan Pinang Ranti, dan turun di pemberhentian terakhir, Pinang Ranti. Kemudian, melanjutkan dengan Angkot ke arah Pondok Gede. Jaraknya, hanya sekitar 1.5 KM dari pemberhentian transjakarta.

Film tentang penghianatan G30-S/PKI bisa kamu tonton juga disini.

Wisata sejarah, juga menyenangkan lho. Selamat berpetualang. [IBM/0916]

Advertisements
Tagged , , , ,

2 thoughts on “Suatu Sore di Lubang Buaya

  1. winnymarlina says:

    dulu banget kesana tahun 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: