Museum Batik Pekalongan

DSC_0915 copy

Mengunjungi Pekalongan, memang tidak ada yang lebih menyenangkan ketimbang bergumul dengan kehidupan batik dari dekat. Setiap sudut kota berpenduduk hanya 290 juta jiwa-an ini ( 2013-wikipedia), terasa kental sekali dengan batik. Toko-toko, pusat grosir, dan masyarakat yang secara terang-terangan dan percaya diri menggunakan batik sebagai pakaian sehari-hari. Bahkan, ada Kampung Batik Kauman, yang merupakan sentra industry batik di Pekalongan.

Hal yang tidak boleh kita lupakan, adalah mengunjungi museum Batik Pekalongan. Masuk kedalam, rasanya seperti menyelam kedalam lautan lilin batik yang hangat. Berlebihan yah? Ah, nggak juga. Coba tengok lebih dalam lagi.

Untuk masuk ke Museum yang luasnya lebih dari 4000 meter persegi, peninggalan jaman colonial ini, atmospir bangunan sejarah langsung terasa. Yah, pada masa penjajahan, bangunan ini memang digunakan oleh penjajah, sebagai kantor keuangan yang membawahi tujuh pabrik gula di karesidenan Pekalongan. Tiket masuk yang untuk wisatawan domestik sebesar Rp. 5000,-

DSC_0924 copy

Kita akan memasuki  empat ruang pamer. Di bagian pertama, dipajang benda-benda yang terkait langsung dengan dunia batik membatik. Dari kain mentah, canting, malam, serta beberapa display yang khas kota Pekalongan. Benda-benda yang dipamerkan ada yang baru, namun beberapa memang asli peninggalan dari jaman lampau.

Ruang kedua dan ketiga, pengunjung di suguhkan dengan display kain-kain luar biasa bagus. Macam-macam motif batik dan warna terpampang dengan elok. Koleksinya, ada yang dari tahun 1700-an lho. Abad ke-18, dan masih tersimpan dengan baik sekali disini. Beberapa, merupakan hasil karya baru yang dibuat diabad ke-21 ini. Namun, tidak kalah indah.

DSC_0931 copy

Ruang terakhir adalah workshop dan toko cindramata. Disini, pengunjung boleh mencoba untuk  belajar membatik dengan gratis. Saya tidak mau ketinggalan. Seumur-umur, saya tidak pernah merasakan sulitnya menggores canting berisi malam panas ke kain. Baru disuruh menggambar pola saja, tangan saya sudah gemetar. Dan, malam yang jatuh tembus dari kain kena tangan itu, panas juga rupanya.

Belajar membatik, memang sulit dan butuh kesabaran tingkat tinggi. Jadi jangan heran jika ada batik yang dijual dengan harga puluhan juta rupiah, karena tingkat kesulitan pembuatannya yang luar biasa. Sudah pakai batik, kawan-kawan?  [IBM0616]

Advertisements
Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: