Aku, Masa Lalu dan Buku

mtf_hfEml_1170.jpg

Saya memang sudah membaca dari sejak dulu. Dari jaman SD kalau tidak salah. Di sekolah kami, di kampung ku dulu, setiap tahun selalu diadakan lomba membaca. Di perpustakaan, ada banyak buku cerita yang harus kami baca. Pada akhir smester, siswa diharuskan menyerahkan daftar bacaan yang dia baca ke panitia, wali kelas dalam hal ini, untuk diperiksa dan dicocokkan dengan daftar pinjaman buku diperpustakaan. Dan saya, pernah menang.

Masa SMP, ketika kawan-kawan saya sibuk berebutan membaca majalah Aneka Yess atau HAI, saya malah sedang asik-askinya membaca Draculla nya Bram Stoker atau Jungle Book Rudyard Kipling. Dalam bahasa Inggris. Guru bahasa Inggris saya, bilang “dulu, saya membaca ini waktu SMA,” katanya. Di masa itu pula, saya berkenalan dengan Pramudya Ananta Toer dan beberapa penulis asing. Meski tidak banyak, namun waktu SMP, perpustakaan saya punya beberapa buku cerita.

Masa SMK, saya semakin beringas. Saya lebih banyak menghabiskan waktu ke perpustakaan. Meskipun cuma sekedar ngobrol dengan penjaga perpus. Sekolah saya, tidak punya banyak buku cerita, selain buku yang dititipkan pemerintah sebagai bahan ajar.

IMG_20160501_173509

Ketika sudah berpenghasilan, saya menggila. Untuk membeli buku, saya akan rela tidak beli baju baru atau makan enak. Hobi yang satu ini memang mahal. Internet pada masa itu adalah barang yang mewah dan langka. Satu-sataunya cara untuk bisa membaca, gratis lebih-lebih, adalah dengan ke toko buku dan membaca sepuasnya. Tidak membeli. Harga buku, memang mahal luar biasa. Maka, sejak berpenghasilan, saya menyisihkan untuk membeli 2 buku setiap bulan, sehabis gajian. Buku-buku itu, sekarang separuh masih ada, Separuh dipinjam tanpa dikembalikan, separuh lagi, entah kemana. Dicuri barangkali.

Dirumah, sebenarnya hanya saya yang kelihatannya membaca lebih banyak dari anggota keluarga yang lain. Pernah pada suatu masa, ada beberapa keponakan dan adik saya mencobanya, namun rasanya tidak berlangsung lama. BUku-buku itu tetap berdebu tanpa pernah disentuh. Setelah berkeluarga, istri saya juga seorang pembaca. Jadilah kami juga kalap kalau ke toko buku.

Baru-baru ini, kami berdua mengunjungi sebuah bazar buku besar di BSD, Tangerang. Di event bazar buku yang diadakan sebuah bank swasta Indonesia, yang di klain sebagai event terbesar, kami membeli 11 buku import berbahasa inggris. Novel, buku perjalanan, sebuah buku serius. Event ini, memang membuat orang gila akan harganya. Satu buku import yang saya beli harganya hanya Rp.60.000,- alias tidak sampai $6 kan? sementara jika di toko, harganya bisa $10 atau lebih.

IMG_20160501_152410

Buat ku, buku selalu menjalani romantismenya sendiri. Menjelajahi setiap perkara tanpa harus ngotot emosi. Menembus hutan-hutan luas amazon tanpa takut disengat semut marabunta yang ganas. Atau di belit anaconda yang besar luar biasa. Menjelajahlah lewat buku. [ibm0516]

Advertisements
Tagged , ,

2 thoughts on “Aku, Masa Lalu dan Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: