Pilih Film Buat Anakmu!

cinemas

Kemarin malam, saya dan istri saya memutuskan untuk menonton film yang sudah menjadi daftar tontonan film kami. London Has Fallen. Film akasi yang di bintangi oleh dua orang jagoan holywood, Gerard Butler dan Aaron Ekhart, serta pemain sepuh Morgan Freeman. Ini adalah sekuel dari film sebelumnya, Olympus has fallen. Adegan seru, berlangsung dari sejak awal film hingga akhir. Tembakan pistol dan senapan laras panjang, pelontar RPG, granat tangan, missil jarak jauh, hingga adu fisik dan tusuk menusuk dengan pisau.

Adegan kebut-kebutan mobil hingga helikopter kepresidenan Amerika yang terbang diatas kota Londan dan dihujani roket-roket, ledakan bom dahsyat, pengrusakan oleh penjahat-penjahat dan jagoan terhadap bangunan-bangunan di London menghiasi detik-demi detik film. Jadi, jangan heran, kalau banyak adegan darah berceceran dan mayat-mayat dimana-mana.

Malam itu, film yang kami tonton, mulai tayang jam 19:00 WIB. Epicentrum XXI tempat kami nonton, ramai jugak. Maklum, karena hari minggu, barangkali. Ketika membeli tiket, kami melihat, kursi yang berwarna merah, tanda sudah dipesan, hampir penuh hingg baris terdepan. Hari ini, Epicentrum XXI memutar film yang sama di dua studio yang ada.

Perhatian kami, jatuh kepada satu keluarga yang membawa seorang anak berumur, mungkin sekitar 4 tahun, laki-laki, yang sudah membeli tiket duluan. Karena posisinya ketika kami antri, tepat didepan kami. Mereka membeli 3 tiket. Ibu, bapak dan si kecil akan menonton film malam itu.

Kami masih sempat usil bertanya ke penjual tiket, tentang rate film ini. Meski, kami tahu ini untuk dewasa, kami bertanya dengan polos, ” ini film untuk dewasa kan, mbak?” dan dijawab, iya oleh si penjual tiket, dengan muka agak masam.

Di dalam, lebih heboh lagi. Di tiga baris depan kami, keluarga dengan dua anak yang usianya, masih hampir sama dengan yang diluar tadi, ribut mencari tempat duduk. Sementara di barisan depan, seorang ibu, menyuruh anaknya untuk segera duduk, karena anaknya masih berisik mencari dan menerka-nerka tempat duduknya.

old film projector with dramatic lighting

Ketika film sudah mulai, komentar anak-anak itu terdengar hingga ke kursi saya di raw B.

Menonton film, sebenarnya menyenangkan sekali, untuk saya dan istri. Kami memang menjadwalkan diri untuk menyeleksi beberapa film bagus dan akan kami tonton bersama. Film lokal dan film luar negeri. Saya lebih suka film action dan petualangan. Istri saya, lebih banyak menonton film Indonesia, drama, dan film yang lebih feminin. Namun, itu tak jadi masalah. Kami tetap bisa menonton dan menikmati film-film yang kami pilih, bergantian.

Fenomena membawa anak kecil untuk menonton film dewasa, jelas jadi perhatian saya. Anak-anak yang masih tidak bisa membedakan adegan-adegan dalam film sebagai rekayasa visual, tentu menganggap bahawa itu adalah adegan heroik sebenarnya. Mereka, pastilah beranggapan, kalau memukul atau menendang itu sesuatu yang “keren”. Setidaknya, begitulah kekhawatiran saya tentang itu.

Saya beberapa kali, mendapati seorang anak berusia balita yang menendang dan memukul orang tuanya, dengan bilang, seperti di film anu dan ksatria itu. Dan orang tuanya, yang dipukul dan ditendang, cuma tertawa dan menganggap itu hal yang lucu. Saya, menganggap itu bahaya. Anak kecil itu, akan mencobanya kepada orang lain, menganggap dirinya sama dengan adegan di film, menjadi jagoan dan kemudian, bisa jadi menggunakan benda-benda lain untuk menyakiti orang lain. Menyeramkan, bukan?

Masih ingat, berita viral di sosial media beberapa waktu yang lalu, tentang dua anak SMP yang bermesraan di kamar, yang disinyalir sebagai sebuah hotel, dengan sebagian tubuh tertutup selimut dan sebagian tubuh atasnya, terlihat -maaf- bugil?

Lho, apa hubungannya dengan film? Apa tidak mungkin, mereka melihat adegan itu di film? Kemudian penasaran untuk melakukannya, dan dengan bangga di pamerkan dalam jaringan sosial media yang mereka punya?

Adalah, tentu saja hak setiap orang tua untuk membahagiakan anak-anaknya. Mereka, para orang tua, mempunyai tanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan kepada anak-anak mereka. Namun, setidaknya, memilih tontonan yang sesuai dengan usia tentu saja menjadi sangat bijaksana. Anak-anak, dalam masa perkembangan emosi yang pesat dan dinamis, tentu saja perlu asupan informasi dan pelajaran yang cukup. Baik, melalui media hiburan dan media kasih sayang. Meskipun nonton bareng dengan orang tuanya, belum tentu tidak berdampak apa-apa kepada mentalitas si anak.

Dan yang paling penting, sebenarnya adalah kontribusi dari penyelenggara hiburan itu sendiri. Pihak bioskop, seharusnya bisa lebih tegas untuk menyaring penonton. Orang tua yang membawa anaknya, untuk menyaksikan film dewasa penuh kekerasan, tentu bukan hal yang ideal. Ini, bukan semata-mata tentang bisnis dan income. Namun, ada tanggung jawab yang di bebankan kepada pihak penyelenggara hiburan untuk bisa ikut ambil bagian dalam pencerdasan kehidupan generasi muda di masa yang akan datang.

cinema3

Dibeberapa lokasi bioskop, hampir tidak ada larangan untuk menonton film apapun kepada siapapun. Anak-anak SMP berseragam, bebas menonton film dengan lebel “dewasa”. Atau anak-anak yang datang bersama orang tuanya, leluasa membeli tiket film penuh darah dan kekerasan. Pihak bioskop, cenderung mendiamkan. Kalau dalam bahasa kita, cuek dengan semua penonton. Batasan dari Badan Sensor Film, seperti sebuah ritual yang hanya harus di tempelkan di poster atau di layar informasi BSF tanpa makna apapun.

Jadi, menonton lah, secara bertanggung jawab. Ini tidak hanya merupakan tanggung jawab pribadi, namun juga tanggung jawab kita bersama.[ibm0316]

 

image via : google

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: