Saya Berhenti Merokok

rokok

Ketika sedang ngobrol dengan seorang kawan, siang tadi, sebungkus rokok LA Light keluar dari sakunya, beserta sebuah korek api gas, dan diletakkan bersebalahan dengan segelas kopi yang masih mengepulkan uap panas. Baru diseduh. Bau wangi kopi, sejenak mengisi ruang antara saya dan dia. Sementara tangannya, lincah mengeluarkan sebatang, menjepitnya dengan bibir, dan membakar ujungnya dengan korek tadi. Menutup ujung yang dibakar dengan kedua tangannya, melindungi api yang keluar dari pematik itu, agar tidak padam kena angin. 

Saya memperhatikan seksama. Terbesit keinginan untuk melakukan hal yang sama. Namun rongga mulut rasanya pahit duluan. Rasa pahitnya, masih lekat menempel di otak saya, dan bersarang. Mengendap dan siap untuk keluar, manakala hati mendorong untuk mencoba kembali.

Iya. Saya sudah berhenti merokok. Hal yang saya lakukan lebih dari dua puluh tahun. Selama itu pula, setiap hari, asap putih rokok yang bercampur nikotin masuk dan menjadi bagian dari tubuh saya. Tidak ada penyesalan. Hingga sekarang pun, saya tidak pernah menyesali pernah menjadi perokok aktif yang cukup lama.

Perkenalan saya dengan sibatang putih, berawal ketika masa SMP. Masa ketika jati diri di cari setiap orang. Masa ketika mencoba apapun sah-sah saja dilakukan. Masa ketika pergaulan menjadi tuntutan dan kehidupan berapi-api ingin sekali mendapat perhatian. Dari guru, dari orang tua, dari inceran, bahkan dari mantan. Rokok pada masa itu, merupakan eksistensi dan cara diri tampil dalam pergaulan yang di pandang normal di lingkungan sekolah. Eit, ini hanya opini saya lho. Jangan ditiru. Tidak untuk diperdebatkan. Masa SMP, saya mana bisa menimbang salah benar dengan teliti? Semuanya mengalir saja.

Masa SMK, saya sempat berhenti. Karena sekolah saya yang cukup jauh dari rumah, dan tidak punya cukup uang untuk membeli rokok. Uang saku dari orang tua, habis untuk bayar ongkos angkot dan bus. Kemudian setelah lulus, saya mulai lagi. Saya mendapat pekerjaan dan berpenghasilan pada saat itu. Jadilah, tuntutan lingkungan pekerjaan, kembali mengingatkan saya pada kenikmatan menghisap rokok, setelah makan, disaat minum kopi, waktu ngobrol dengan kawan-kawan sesama pekerja, bahkan ketika –maaf- buang air besar. Rasanya, tidak ada hal yang lebih menyenangkan dari itu.

Rokok memang menjadi sarana pergaulan yang ampuh. Menjalin pertemanan baru dengan sebatang rokok, lebih gampang ketimbang dengan segepok uang. Bayangkan saja, ketika kita bertemu dengan orang tidak dikenal kemudian kita sodorkan uang ke dia sambil basa basi, “ uang nya mas!” Tidak di hajar saja sudah  bagus. Orang mestinya merasa dihina. Coba dengan rokok, sodorkan dan persilahkan dia merokok bersama. Kemungkinan untuk marahnya sangat kecil. Paling banter juga ditolak kalau orangnya memang bukan perokok. Namun, pasti tidak ada yang merasa terhina dengan itu.

Banyak hal terjadi dalam kehidupan saya karena rokok. Persahabatan dengan kawan-kawan baru, perkenalan dengan pekerjaan baru, menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang di Indonesia sini, sangat toleran dengan rokok. Bahkan, ketika larangan merokok diatur dengan undang-udang dan sangsi diancamkan, toh tempat-tempat tersebut masih menyisakan lokasi nyaman untuk para perokok. Digedung-gedung, di pusat perbelanjaan, di bandara. Di jalan dan di warung kopi, di rumah makan disediakan ruang khusus merokok, di warteg, -ini tidak masuk hitungan, tentu saja-.

Namun, saya juga pernah di gelandang oleh Auxiliary Police ( kalo di Indonesia, Satpol PP, kali yah ) di Singapura, karena membawa rokok dari Indonesia dan  tidak membayar cukainya. Jadi, menurut mereka, semua rokok – termasuk yang untuk konsumsi pribadi – dari luar negeri yang masuk ke Singapura, harus membayar cukai di bandara Cangi. Meski, saya merokok ditempat yang tidak dilarang, saya tetap di giring, menuju sebuah mobil yang diparkir cukup jauh dari TKP. Disana, beberapa orang dengan passport Phillipina, Malaysia, Cina, Taiwan, juga ikutan antri bersama saya. Passport saya di data. Rokok saya di hancurkan didepan muka saya. Kemudian saya harus menandatangani beberapa dokumen. Padahal, dihotel persediaan saya sudah habis. Dengan terpaksa saya membeli rokok di Singapura yang harganya, hampir 4x lipat. Kalau di Indonesia, satu bungkus Sampoerna Mild menthol itu harganya Rp. 15.000,- di sana harganya hampir Rp. 90.000,-. Ngenes? Sudah pasti. Namun sebagai perokok, saya bayar juga.

Prilaku saya masih tatap sama, bahkan ketika saya sudah menikah. Istri, tidak pernah melarang saya untuk merokok. Menurut dia, percuma meminta saya berhenti. Kalau saya masih mau, pasti tidak ada gunanya melarang.

Tapi, saya punya satu prinsip, yang masih saya pegang selama masa saya merokok. Tidak minta dibelikan rokok oleh anak dibawah umur, ( pernah minta tolong ke ponakan sih, tapi yang sudah masuk SMA – dibawah umur juga yah? – Hadeeeeh ), atau merokok di depan anak kecil, tidak merokok dikendaraan umum dan keramaian, serta yang pasti, saya punya asbak portable yang saya bawa-bawa kemana-mana.

Urusan asbak portable ini, cukup lama saya terapkan. Kalau keluar kota, naek gunung dan diberbagai kesempatan, pokoknya, selalu ada asbak yang bisa ditutup didalam tas saya. Saya juga orang yang selalu risih jika membuang puntung rokok sembarangan. Di tas, di saku celana, kerap kali menjadi lokasi transit puntung rokok saya sebelum sampai ke tong sampah atau asbak. Kadang sering nya di ledek sama kawan-kawan, sebagai orang yang terlalu prinsipil. Ya tapi biarlah.

Sekitar bulan February 2015, saya memutuskan untuk berhenti menghisap nikotin dalam rokok. Suatu sore, ketika istri saya hendak belanja ke minimarket, dia tanya apa saya mau dibelikan rokok sekalian. Saya bilang cukup. Ini rokok terakhir saya. Saya mau berhenti. Dia hanya senyum kecil dan terus berlalu. Dan sejak itu, saya berhenti. Beberapa kali, masih mencoba menghisap rokok milik kawan, tapi rasanya sudah beda. Beda sekali.

Konsumsi rokok saya, memang belum termasuk katagori parah. Saya menghabiskan sebungkus rokok filter, dalam dua hari. Bisa lebih cepat kalau dalam suasana main dan ada kawan ngobrol, nonton bola di tivi atau begadang mengerjakan tugas-tugas. Atau pada masa galau, bosan, sendiri dikostan, naik gunung, membaca buku di warung kopi dan beberapa lagi.  Berganti-ganti dari Star Mild, Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, Dji Sam Soe kretek & filter, Sampoerna Mild, dan entah apa lagi, hingga yang terakhir adalah Sampoerna Mild Menthol yang saya konsumsi hampir 5 tahun.

Eit, tapi jangan salah. Meski saya perokok, urusan kesehatan badan, saya bukan orang penyakitan paru-paru. Saya yang juga vegetarian, dan perokok aktif, masih mampu naik gunung tek-tok ke puncak Gunung Salak atau Gunung Gede. Saya masih mampu lari 10x mengelilingi ring road stadion Gelora Bung Karno, tanpa berhenti. Ikut lomba lari 5K, atau sekedar jogging ditaman langsat. – Kalo yang ini, bagian sombongnya nih –

Dan begitulah. Untuk sebagian orang, mungkin berhenti mengkonsumsi rokok merupakan hal yang sangat sulit. Berbagai macam cara sudah dilakukan. Dari yang medis, hingga ke pengobatan alternatif. Dari yang mengganti makan permen ketika ingin merokok, hingga hipnotis. Tak ada cara khusus yang saya pakai. Tak ada metode holistik, atau jamu-jamuan, atau akupuntur atau terapi hipnotis, obat-obatan medis, permen atau lainnya.  Jika memang berkenan memakai cara yang saya lakukan untuk berhenti, ya silahkan. Namun, mestinya berbeda pada tiap-tiap orang.

Biasanya, orang akan berhenti karena beberapa alasan. Medis yang paling umum dan wajib. Karena sakit anu-sakit itu dan lain sebagainya. Bungkus rokok sekarang yang ditempel gambar berbagai penyakit akibat merokok pun, rasanya belum cukup ampuh untuk membuat orang berhenti.

Menurut pandangan saya, faktor eksternal, dorongan luar, dan segala tetek bengek yang dilakukan sebagai propaganda dan upaya penyadaran orang yang mengkonsumsi rokok, tidak berjalan dengan cukup baik. Alih-alih berkurang, konsumsi rokok menjalar hingga ke tingkat yang paling bawah. Media memberitakan tentang seorang anak berusia 4 tahun, di Sumatera, yang mengkonsumi 2bungkus rokok perhari. Dan masih banyak lagi.

Di Indonesia, gempuran iklan rokok, meraja lela hingga ke pelosok negeri. Saya pernah membaca artikel tentang perbandingan Jakarta dan New York dalam dunia advertising. Di New York, kamu bisa melihat iklan apa saja, dimana saja, kecuali rokok. Namun di Jakarta, kamu bisa liat iklan rokok dimana saja, kapan saja. Industri rokok menjadi penyokong acara pentas musik, membangun lapangan olah raga, perhelatan kejuaraan olah raga dan masih banyak lagi. Masyarakat disini, dibuat hidup berdampingan dengan nikotin dan asap rokok secara “wajar”. Meski, ada juga yang menolak, tentu saja. ( Kenapa jadi serius? )

Tekad. Dan bicara kepada diri sendiri. Saya berhenti merokok. Kemudian, bilang kepada orang-orang bahwa saya berhenti. Saya memakai cara begini.

Ini untuk mengingatkan kepada orang lain supaya tau, dan meyakinkan diri kita supaya tetap teguh. Godaannya berat? Bisa jadi begitu. Dorongannya, tidak hilang lenyap begitu saja. Biarkan saja mengalir. Semakin kita berusaha melawan, maka ia semakin berat berusaha keluar dari alam bawah sadar kita dan menindih hingga kita tak bisa beranjak untuk lari menjauh. Berhenti merokok, bukan serta-merta karena dorongan motivasi dari orang lain. Lebih jauh, ini tentang pola pikir kita saja. Kalau otak sudah bicara berhenti, ya semua anggota yang lain pasti akan “amin” saja.

Menurut pengalaman saya, berhenti merokok merupakan perombakan sitem bawah sadar yang harus disadari dengan betul-betul. Jadi, kita sadar kalo kita merokok. Dan kita sadar kalau rokok itu bukan bagian tubuh yang tidak bisa hilang dari diri kita. Karena dia adalah faktor lain dari diri kita, seharusnya tidak apa-apa kalau tidak ada di tubuh kita.. ( rumit yah? Haha )

Dalam kasus saya, saya merasa bosan dengan rasa rokok yang itu-itu saja. Kemudian jadi ogah menghisap karena sudah bisa menebak rasanya pasti begitu. Rasanya begitu-begitu saja. Perasaan bosan itu kemudian saya sadari, dan menjadi hal yang membentuk opini saya tentang rokok. Dan saya berhenti. Apa proses nya lama? Tidak. Hari itu saya putuskan, hari itu pula terakhir saya merokok secara reguler. Karena saya sadar, kalau saya bisa merokok kapan saja, ya saya bisa berhenti kapan saja juga.

Ini adalah permainan pola pikir. Saya pernah mengalaminya, ketika saya ditantang untuk mengabiskan makan dipiring saya, dengan jumlah yang sangat banyak. Beberapa kawan saya, sampai muntah karena porsinya yang memang luar biasa. Namun, piring saya bersih, dan saya masih minta nambah kue. Pertama saya juga menjerit. Ini semacam mapras/plonco ketika masuk ke kantor baru. Tradisi, kata mereka. Yang saya lakukan adalah, minum air putih sedikit, kemudian makan. Kemudian ngobrol sambil makan, ketawa sambil makan dan terus saja begitu. Makanan itu, tidak saya anggap beban. Hajar saja. Dan habis, meski agak lama. Meski, ditambah terus, dengan sebutan “nyumbang” dari kawan-kawan, di detik terakhir, makanan itu tetap ludes tak tersisa. Kok bisa?

Saya pun berfikir begitu. Kok bisa?! Ternyata bisa. Saya, sama sekali tidak menganggap itu sebagai beban. Makan ya makan. Hajar saja. Begitu habis, ya berhenti.

Metode inipun, saya terapkan ketika saya hendak berhenti merokok. Merokok ya merokok. Kalau saya mau berhenti ya berhenti. Hidup saya, tidak pernah kurang apa-apa dulu ketika saya tidak merokok. Mestinya sekarang juga begitu. Ya, kira-kira begitulah.

Memang tidak ada standard nya. Metode dari manapun, kalau memang diri sendiri tidak “waras” ya, susah untuk berhenti. Masing-masing pasti berbeda. Ada yang dengan metode tertentu bisa berhenti, akupuntur, hipnotis, ganti permen, buat saya, itu seperti paksaan. Makin keras dipaksa, keinginan makin keras juga untuk tidak meninggalkannya. Makin berusaha dilawan, makin keras dia melawan balik ke pikiran kita. Karena kita sebenarnya tidak rela untuk berhenti. Kata istri saya, “percuma dilarang, kalau pengen berhenti juga berhenti,”

Dan saya total tidak merokok. Jadi, meski sampai jumpalitan berusaha, kalau dorongan dari dalam diri sendirinya setengah-setengah – dipaksa-, rasanya sama saja. Merokoklah, dengan sadar. Berhentilah dengan sadar. [IBM0715]

Advertisements
Tagged , , ,

2 thoughts on “Saya Berhenti Merokok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: