Bali Pulina, Minum Kopi Luwak di Ubud

  DSC01316

Dalam perjalanan pulang dari Batur, kami sepakat untuk menyambangin tempat lain di Ubud. Bukan pasar, bukan pusat kerajinan atau cinderamata, bukan rumah makan yang penuh dengan turis atau wisatawan lokal. Tapi, kali ini, kami akan berkunjung ke sebuah area agrowisata dikawasan Tegalalang, Ubud.

DSC01303

Malam sebelumnya, Widi menunjukkan kepada saya, photo kawannya yang diambil disebuah catwalk, dengan tinggi lebih dari sepuluh meter dan latarbelakang pepohonan hijau perbukitan dan lembah dalam dengan terasering atau padi yang hijau permai. Tanpa pikir panjang, saya setuju.

DSC01320

Memasuki gerbang Bali Pulina, begitu nama dari tempat ini, kita dihantarkan kepada kebun rakyat, bukan kepada perkebunan industri. Tangga-tangga dari batu dan kayu, dibuat apik menjadi arah dan pijakan menuju terus kedalam. Kanopi pepohonan menaungi dari panas matahari. Beberapa pohon yang khusus diberi tanda nama, sehingga pengunjung bisa juga belajar tentang kekayaan botani disini.

DSC01326

Yang khas dari Bali Pulina, ketika kami menemukan beberapa kandang Luwak (Paradoxurus hermaphroditus). Luwak-luwak itu sedang tidur. Mereka adalah pekerja yang berjasa menghasilkan Kopi Luwak yang terkenal itu. Di sini, kopi luwak memang menjadi primadona. Meski harganya yang tergolong relatif mahal, namun pamornya sudah mahsyur sampai ke penjuru jagad. Seorang guide mengantarkan kami, dan menjelaskan tentang konsep kopi luwak itu sendiri.

DSC01327

DSC01336

Jalanan kemudian menurun dan bertemu dengan tiga buah bangunan bambu yang terbuka di satu sisinya. Dibangunan pertama, kami mendapati seorang ibu yang sedang bekerja menyanggrai kopi. Dibangunan ini pula, diletakkan bermacam-macam kopi hasil produksi perkebunan ini. Semuanya masih mentah, dan belum di giling. Sementara bangunan kedua, berisi perkasas pertanian dan alat-alat dapur yang lazim digunakan di Bali tempo dulu. Alat-alat tradisional yang digunakan oleh petani dan ibu-ibu di Bali sehari-hari. Ada juga, beberapa hasil pertanian yang di pajang disana. Ada jala ikan yang digunakan oleh para nelayan, sehingga suasana pedesaan Bali tradisional terbangun dengan baik.

DSC01365

Dibagian ujung, kita akan bertemu dengan sebuah bangunan dari kayu yang berbentuk daun kopi dengan pemandangan lembah dan pesawahan dibawahnya. Sebuah pohon durian dibiarkan ditengah untuk sekaligus menyangga bangunan itu. Dan sejauh mata memandang, tempat ini akan menawarkan suasana pedesaan bali yang cantik.

DSC01400

Pengunjung juga akan ditawari delapan gelas contoh minuman yang dijual disini. Meskipun Cuma sample, jangan pikir hanya sedikit. Delapan gelas itu, cukup untuk dinikmati oleh lima orang. Nah, setelah mencicipi, kita bisa memesan kembali minuman yang kita suka. Harganya, cukup terjangkau. Dari kopi bali yang seharga Rp.15.000,- per cangkir dan kopi luwak seharga Rp.50.000,-percangkir. Jika hendak membawa pulang, jangan takut, di tempat lain sebelum pintu keluar, ada kios yang menjual segala macam kopi dan beberapa barang lain untuk dijadikan sovenir atau dinikmati sendiri.

DSC01405 copy

the shop

Konsep Bali Pulina yang membiarkan dan menata kembali kebun masyarakat tanpa merubah total, membuat kita serasa berada betul-betul dialam pedesaan. Untuk mampir kesini, pengnjung tidak dipungut biaya alias gratis. (IBM0515)

Revisi :

menurut informasi terbaru dari seorang kawan. Tiket masuk ke Bali Pulina, adalah Rp. 100.000/orang persekali kunjungan. Dengan mendapatkan beberapa sampel makanan dan minuman

Advertisements
Tagged , , , , , ,

4 thoughts on “Bali Pulina, Minum Kopi Luwak di Ubud

  1. alrisblog says:

    Pemandangannya cakep banget bang. Dan kerennya masuk gratis. Jarang lho ada tempat wisata yang dikelola bagus bisa digratiskan.
    Bang Boim nyobain kopi luwak gak?

    • Ibrahim says:

      Betul bang. Semua tempat rasanya pasti pake tiket masuk dah sekarang-sekarang… diantara gelas-gelas sample nya ada kopi luwak. saya nyobain yang itu aja, sama ada kawan yang beli, join-an.. hahah…

  2. Gratis kok, gak bayar. Malah pengemudi diberi nomor, kayaknya ada fee kalau kita belanja buat pengemudinya. Makanya mereka lebih suka bawa ke Bali Pulina.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: