Orang Kanekes Yang Bersahaja

DSC_1167 copy

Tiba-tiba, hujan turun dengan lebatnya. Jalanan yang berupa tanah merah menjadi sangat licin. Genangan air dimana-mana. Sekujur badan basah kuyup tak bisa dielakkan. Payung kecil yang saya bawa, rasanya tidak cukup ampuh untuk menahan limpahan air hujan yang amat deras. Sementara, langit gelap menyelipkan beberapa kelebat kilat nun jauh di ujung barat.

DSC_1141 copy

Jalanan menanjak cukup terjal. Hujan yang lebat dan tanah merah yang menempel disepatu, menjadi siksaan luar biasa berat, diantara perut yang mulai lapar dan dingin yang menyerang tak tau waktu. Jam makan siang memang sudah lagi lewat. Namun, menurut pemandu kami, beberapa kilometer lagi, perkampungan Baduy Dalam, tempat kami akan singgah dan bermalam, akan kami temui.

Camera360_2013_6_15_022217 copy

Bagitulah. Suku Baduy yang merupakan penghuni awal daerah Banten, menyimpan sejuta pesona. Ini memang bukan kunjungan saya yang pertama, menapaki jalanan tanah merah, diantara rimbunan pohon-pohon menyemak dan ladang-ladang pertanian penduduk, melihat dan belajar langsung kearifan orang Baduy. Mereka yang mendiami daerah ini, sudah ada turun-temurun. Namun, keasrian dan kearifan mereka, untuk menjaga kelestarian alam, patut menjadi tauladan. Pengolahan sumber daya alam yang lebih menyerupai proses petik hasil, membuat kawasan ini senantiasa rimbun dan berair. Bayangkan saja, mereka mendiami sebagian besar daerah perbukitan Banten yang elok.

Masyarakat Baduy sendiri, kerap kali disebut dengan Orang Kanekes. Merupakan kelompok masyarakat etnis Sub Sunda yang menempati kabupaten Lebak, Banten. Sebutan Baduy sendiri, kemungkinan dipopulerkan oleh masyarakat Belanda, yang mengangap mereka sama dengan suku Badui Arab, yang berpola hidup nomaden. Atau, karena adanya sungai Baduy dan Gunung Baduy didaerah tersebut.

DSC_1184 copy

Orang Kanekes, hidup dan mendiami tiga tempat utama. Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo. Karena merupakan sub suku Sunda, bahasa keseharian mereka, juga Bahasa Sunda dengan dialek Banten. Meski, sudah pasti mereka juga bisa berbahasa Indonesia. Orang Kanekes tidak mengenal sekolah. Bagi mereka, itu melanggar adat istiadat. Meski begitu, jika masalah kesopanan, mereka tidak ada duanya.

DSC_1172 copy

Tempat yang kami tuju, adalah dusun Cikeusik. Perjalanannya berawal dari pintu masuk kawasan Baduy di Ciboleger. Disini, ijin untuk masuk ke daerah-daerah lain di Baduy Luar dan Baduy Dalam di urus. Kemudian, kami ditemani oleh beberapa orang penduduk local yang juga merupakan pemandu dalam perjalanan. Pemandu, mutlak diperlukan. Kawasan yang sangat luas dengan jalan-jalan desa yang bercabang, diantara hutan-hutan dengan jarak satu kampung dengan kampung  yang lain yang berjauhan, bisa menyesatkan siapa saja.

DSC_1205 copy

Masyarakat Kanekes, hidup dan bergantung dengan alam. Kearifan ini, yang kemudian membuat keseimbangan hidup mereka terjalin baik dengan bumi. Sungai, merupakan urat nadi yang mengalirkan kehidupan kepada meraka. Mengambil air untuk memasak dan minum, mencuci dan mandi, serta banyak lagi. Meraka tau betul bagaimana merawat urat nadi itu agar tidak tercemar atau menjadi penyakit. Tidak ada sabun mandi, tidak ada shampo, tidak ada benda polutan kimiawi pabrik lainnya yang meraka pakai.

Listrik, merupakan sesuatu yang tidak kami temui di Cikeusik. Penerangan malam hari, menggunakan lampu minyak kelapa yang redup dan berasap. Jangan berharap akan signal telepon, radio atau televisi. Disini, semua itu merupakan barang yang tidak akan bisa ditemui.

DSC_1236 copy

Masih banyak hal menarik lain yang bisa dipelajari di Baduy dalam. Kearifan ini, turun temurun dari generasi ke generasi dan menjadi warisan. Yang paling menarik, mereka tidak akan naik kendaraan bermotor sebagai alat transportasi. Jalan kaki. Itulah yang mereka lakukan kemana-mana. Orang Kanekes, juga membangun jalanan mereka sendiri. Menenun kain untuk keperluan sandang meraka, dan tidak menjual padi yang mereka tanam.

Kehidupan Baduy Luar dan Baduy Dalam memang sedikit berbeda. Masyarakat Baduy Luar, sudah menerapkan teknologi dan pendidikan dalam keseharian mereka. Internet, sudah dikenalkan di Ciboleger baru-baru ini. Serta telepon genggam, radio dan televisi, bukan barang yang tabu disini. Meski begitu, kearifan mereka tetap tidak akan luntur. [ibm-120215]

Advertisements
Tagged , , , , , ,

2 thoughts on “Orang Kanekes Yang Bersahaja

  1. Pesona Baduy yg tak terlupakan, di tengah dinamika komoderanan mereka tak goyah, tetap setia pada tradisi. Kagum sangat pada mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: