Its Jeans Wear, Its Freedom!!

celana-jeans

its jeans, its freedom

Jika disuruh memilih, saya akan memilih jeans sebagai pakaian sehari-hari. Bukan formalitas kemeja dan celana berbahan katun atau yang lain. 

Dari semenjak awal saya mengenal celana dan bisa membelinya sendiri, saya selalu menempatkan jeans dalam urutan utama. Bahannya yang kuat dan tidak mudah robek, warnanya yang semakin kusam semakin sedap dipandang mata, bentuknya yang selalu pas dengan kaki saya ( meski sering kali, saya harus potong karena tubuh saya yang pendek ), hingga karena kenyamanan yang saya dapat, ketika mengenakannya. Rasanya, seperti film rodeo-rodeo penakluk banteng-banteng ganas, atau koboi-koboi amerika. Kalau boleh agak “lebay” tingkat kegantengan saya, berasa naik 0,01000% kalau menggunakan celana ini.

Lebih empat tahun, saya tak punya celana bahan katun dalam lemari saya. Jeans, adalah celana sehari-hari, bekerja, main dan melakukan aktiftas lainnya sehari-hari. Tiap beberapa bulan, saya akan beli untuk dipakai bergantian dengan yang lain. Dunia kerja saya yang santai, memang tak menuntuk penampilan perlente seperti diperkantoran atau para eksekutif muda.

Saaya pernah sedih sekali, ketika sebuah calana saya lenyap dari tempat laundry kiloan. Mereka ngotot tidak pernah mencuci celana itu. Padahal, saya ingat betul, kalau celana itu, selalu saya cuci beserta dengan baju, yang pada saat itu, ada selamat dari laundry. Dan ketika tas saya dicuri orang, sementara didalamnya ada sebuah jeans hitam kesukaan saya, hati saya hancur. Ah,, berlebihan!

20140311_084834_jeans-celana

Makin Robek Makin Keren

Hingga kini, ada satu jeans robek-robek yang saya masih simpan. Benda itu, menginatkan saya kepada perjalanan hidup saya terdahulu. Betapa banyak cerita diantara celana itu dan kehidupan saya. Pada hari-hari tertentu, saya kerap memakainya. Celananya memang sudah robek di dengkul, kedua-duanya. Memudar warna birunya, sudah tidak lagi bisa tertolong. Namun, saya selalu suka memakai celana itu. Merdeka. Seperti mengerti akan diri sendiri.

Satu jeans lain yang saya punya, saya beli dua tahun lalu. Diskon 30% disebuah department store di Jakarta. Bukan karena harganya yang miring, lebih karena itu satu-satunya celana yang fit dengan saya yang berpinggang 27. Rata-rata, mereka menyediakan ukuran 28 ke atas. Meski lebelnya tertulis 28, namun itu bisa fit untuk saya.

Satu lagi, jeans bebel yang saya potong hingga sepaha. Umurnya lebih lama lagi. Mungkin sudah lima atau enam tahun. Saya lupa kapan membelinya dan dimana. Namun, saya mengguntingnya menjadi celana pendek, ketika celana itu robek saat saya naik sepeda dan ujung bawah celana itu, “nyangkut” di gear sepeda.

Jeans, buat saya adalah kebebasan. Meski tidak banyak dan tidak ada yang baru, saya selalu suka untuk memakainya. Bagaimana anda? [ibm/161014]

Advertisements
Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: