Bintang Jatuh di Lorong Malam

DSC_0294_1

Bintang jatuh, meluncur deras, ke selatan. Menembus cahaya-cahaya gemerlap yang tak mau tinggal diam, seperti menyalak. Dalam kegelapan begini, cahaya gemintang begitu, seperti obat mujarab yang masuk ke pembuluh-pembuluh darah, menyebarkan anti kangker. Seperti udara segar yang masuk melalui lubang hidung, kemudian menyebar di paru-paru, membawa kesegaran baru.

Colt terbuka itu melaju kencang dijalanan penuh batuan di antara kebun-kebun kelapa yang rapat. Beberapa pokok pohon mete, menyebrang ke jalanan, membentuk kanopi yang menutup pandangan ke langit malam, menjadi semakin gelap. Mobil, seperti tidak peduli. Terus berjalan kencang. Menebarkan debu-debu yang beterbangan tertinggal laju si roda empat itu.

I rembember, kataku. Ketika pertama kali menginjakan kaki di pulau kecil ini, malam seperti begitu menakutkan. Dia seperti bayangan yang membungkus badan. Hening mengganggu. Aku seperti ingin kembali ke bingarnya kota. Namun, setelah empat hari berpetualang begini, rasanya, ini seperti dunia baru yang tidak pernah aku sentuh. Aku rindu desir angin yang menggoyang batang-batang bambu di sudut sebuah rumah tua yang bercat putih, dan berhalaman sangat luas. Menyaksikan ratusan burung terbang dan bersuara nyaring, sementara senja bergegas masuk di cakrawala.

Aku teringat. Ketika bayangan mu menyapa pelan, “sudah makan?”

Dalam benak saja. Aku tersenyum. Seperti bintang yang jatuh dalam senyum. [ibm/061014]

Advertisements
Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: