How Traveling Effect Me In Daily Life (1)

6tag_040314-160035

Rumah di Tengah Sawah – Tasikmalaya

Sebelum meninggal pada tahun 1994, Bapak saya pernah bilang. Kalau saya mau pergi-pergi, itu harus pakai uang sendiri. Jangan minta sama orang tua.

Lahir dan besar di desa, dengan pekerjaan sebagai petani, tentu saja membuat hidup kami bukan dari kalangan berlimpah. Hanya cukup. Bapak dan Emak, malah tidak sempat merasakan sekolah sama sekali. Mereka buta huruf. Namun kami lebih beruntung sebagai anak-anaknya. Pernah merasakan nikmatnya masa-masa sekolah. Meski, dengan uang jajan seadanya, berjalan kaki hampir lima kilometer ketika SMP, dan harus dua kali ganti kendaraan umum ketika SMA.

Ketika sudah bekerja, hasrat untuk menjelajah kehidupan semakin menggebu. Di kamar saya, yang waktu itu saya bagi dengan adik, saya pasangi peta pulau jawa di salah satu dindingnya. Setiap malam, peta itu menjadi inspirasi saya. Ingin melihat ujung pulau jawa di Banyuwangi, ingin melihat kaldera gunung Bromo di Lumajang dan masih banyak lagi.

Gunung-gunung di Pulau Jawa, merupakan tempat-tempat yang selalu saya perhatikan. Angka-angka ketinggian yang dituliskan dipeta, seperti melekat di otak saya. Muncul simpang siur ketika mulut mengucap nama gunungnya. Atau ketika melihat papan nama toko bangunan dengan nama salah satu gunung itu, nama jalan, hingga dibelakang truk yang biasa melintas di tol Jakarta Cikampek yang saya temui. Berloncatan nama-nama kota itu muncul di benak saya, ketika mendengar orang-orang dan kawan sepekerjaan mengaku berasal dari satu daerah. Saya begitu familar dengan tempat bernama Jogjakarta, Magelang, Muntilan, Surabaya, Kediri, dan masih banyak lagi. Meski tentu saja, Cuma dari tulisan di peta.

Kesempatan-demi kesempatan untuk bisa mencari pengetahuan dengan berpergian, kemudian bermunculan satu-persatu. Jadilah rangkaian sebuah perjalanan yang tidak pernah terputus hingga kini. Kiri kanan, saya belajar untuk menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri.

Paling sering, memang naik gunung. Di masa-masa awal, tentu saja saya hanya ikut-ikutan. Diperintah kanan kiri untuk begini begitu, bawa ini dan itu. Tanpa pengetahuan yang cukup. Namun, tentu saja, belajar dengan cara seperti itu, membentuk karakter kita sendiri. Jadi dengan mudah mengantisipasi macam-macam hal, karena pengalaman. Bagaimana berada dikepungan badai di gunung, misalnya. Jika membaca teori, begitu banyak pengalaman orang yang menjadi teori di buku-buku. Bahkan, mungkin sipenulis nya sendiri, tak pernah mengalami hal buruk macam bayangan dan imajinasi otaknya saja. Dengan langsung mengalami, rasanya cukup cepat kita akan mengambil tindakan, ketimbang harus mengingat macam-macam teori yang kita baca itu.

Satu persatu, gunung-gunung di Tanah Jawa saya naiki. Menjadi pengikut saja, hingga seiring bergulirnya waktu, kemudian malah jadi “racun” buat yang lain. Dari yang pendek-pendek, sampai tanah tertinggi di Jawa ini, pernah saya pijaki.

Kawan seperjalanan yang berganti  ganti, pasti langsung atau tidak membentuk karakter kita juga. Pepatah yang mengatakan, “bawa kawanmu ke gunung, dan kau akan tahu yang sejatinya” berlaku mutlak buat saya. Bagaimana saya membaca karakter orang-perorang dari kawan-kawan saya ketika diperjalanan dan di kehidupan sehari-hari. Ada yang di kehidupan sehari-hari, kelihatan cuek sekali kepada temannya, kepala batu, egois, tidak mau diatur, namun pada kenyataanya, digunung dia adalah selimut hangat ketika dingin menyerang dengan ganas. Kopi yang dia seduhkan, makanan yang dia masak, bahkan tak pernah dia memaki atau apapun di gunung. Sebaliknya. Kawan yang sangat peduli dan perhatian di kehidupan sehari-hari, digunung tak lebih dari orang egois yang tak mau membawa beban air minum sendiri, menitipkan barang-barangnya kepada kawan dan masih banyak lagi. Semuanya, selalu menjadi pelajaran berharga yang tidak bisa didapat disekolah manapun.

Camera360_2013_8_23_060208

Jakarta

Hingga suatu ketika, kejenuhan itu membuncah. Kawan-kawan menikah dan sibuk dengan pekerjaan yang tak pernah berhenti. Saya, galau. Dengan nekad, kemudian saya mengepak barang-barang dan bepergian sendiri. Hanya sendiri.

Menikmati indahnya keheningan di Pasar Bubrah Merapi. Di ombang-ambing badai di Gunung Merbabu. Hingga menangis, karena bosan dengan jalanan panjang di Lawu. Sendirian. Dan masih banyak sekali, perjalanan lain yang memaksa saya harus berangkat dengan bus-bus malam ke ujung-ujung pelosok Jawa.

Tidak. Itu bukan contoh yang baik, tentu saja. Namun, itulah yang terjadi. Egoisme masa muda mencekik di kerongkongan.

Lahir di desa, namun main ke desa orang pula. Kakak saya, pernah berkata begitu. Meski tau maksudnya, supaya saya kenal kota juga, tapi rasanya belum perlu. Kota-kota yang saya singgahi dari perjalanan ini, terasa begitu mempesonakan. Bagaimana hidup membaur dengan kearifan orang yang menggunakan bahasa beda dalam keseharian.

Ibu tua yang berjualan rempeyek kacang di pojokan Beringharjo, pernah berkata kepada saya. “ Orang muda itu, harus bepergian. Melihat orang lain, di tempat lain. Kemudian kembali ke kampung halaman, menjadi contoh.”

Kira-kira demikian. Sang Ibu, menghabiskan hampir seluruh hidupnya menjadi penjual di pasar itu. Anak-anaknya yang merantau. Meski beberapa dari mereka, bahkan tidak pernah pulang dalam beberapa tahun. Kota menenggelamkan ingatan tentang banyak hal. Juga kepada orang tua yang melahirkan dan membesarkan, merawat dan mendidik. Kesuksesan membatasi gerak diri, hingga lebaran atau tahun baru seperti jurang yang memisah silaturahim ibu dan anaknya. Namun, senyum ibu itu tak pernah surut. [ibm27814]

Advertisements
Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: