Tony Fernandes, Air Asia & Petualangan Itu Bermula

DSC_0591_123

Masjid Jamek – Kuala Lumpur

Tony Fernandes. Siapa tak kenal lelaki kelahiran 30 April 1964 itu? Orang yang berjuang dan mengorbankan jabatannya di Warner Music Group Asia Tenggara justru pada saat masa kejayaannya, untuk mengejar mimpi yang lama dia pendam. Punya perusahaan penerbangan dengan tarif murah di Malaysia. Karirnya sebagai vice president di Warner bukan main-main. Namun, kesuksesannya sekarang pun, tidak main-main juga. Tony, dengan Air Asia yang punya jargon dagang “ Now, Everybody Can Fly” mendunia, tidak hanya di Malaysia dan Asia Tenggara, tapi menembus garis lintang bujur bumi ke segala penjuru. Membawa cakrawala baru bagi para penjelajah yang haus eksplorasi.

Transformasi Tony Fernandes dengan segala liku-likunya, membuat saya merenung. Kalau belum bisa membuat perusahaan penerbangan untuk menyaingi beliau, mungkin saya bisa mencoba menjadi bagian dari kesuksesannya. Merasakan apa yang dia perjuangkan.

Perkenalan dengan Air Asia, sebetulnya memang “kecelakaan”. Adalah istri saya – yang waktu itu masih jadi tunangan-, akan melakukan liburan ke Singapura dan Kuala Lumpur bersama kantor tempat dia bekerja. Namun, pekerjaan memaksa saya untuk tetap tinggal di Jakarta. Tiket pesawat dan segala macam persiapan sudah disiapkan. Saat itu, dia mendapatkan tiket promo untuk terbang ke Singapura, dan kembali ke Jakarta lewat Kuala Lumpur. Promo?? Apa pulak ini?

DSC_0105_123

Batu Caves – Kuala Lumpur

DSC_0341

Masjid Putra Jaya

Saya, bukan orang yang ngotot harus mendapatkan tiket dengan harga murah. Biasanya, perjalanan lebih banyak karena urusan pekerjaan. Sekali-kali memang pernah juga, untuk liburan. Namun, tidak melulu harus mengejar itu.

Satu bulan sebelum kepergiannya dan teman-teman kantornya, istri saya ternyata sudah membelikan saya tiket pulang pergi Jakarta –Kuala Lumpur–Jakarta. Sempat kaget juga. Kondisi keuangan kami, memang belum bisa untuk dipakai liburan pada saat itu. Karena persiapan pernikahan kami dan lain sebagainya. Tadinya berfikir, sudah biarkan dia saja yang berangkat, untuk menghemat pengeluaran. Tentu saja, saya tidak ke Singapura. Tapi langsung ke Kuala Lumpur dan bertemu dengannya di KL Central. Saya memutuskan untuk mengajak seorang kawan kantor yang sama-sama sedang senggang, ketika itu.

Jadilah perjalanan dengan Air Asia pertama saya ke luar negeri. Standard sekali bukan? Kuala Lumpur. Namun buat saya, itu tempat yang tidak bisa dibilang biasa saja. Kuala Lumpur dengan segala pesonanya, membuat mata terbelalak. Buat orang  yang baru pertama kali melihat Menara kembar Petronas, Patung Budha berwarna emas di Batu Cave, Masjid Jamek dan Masjid Agung Putrajaya, saya terpesona.

photo Air Asia by Goggle Images

Sistem transportasi yang sudah tertata sedemikian rapi. Pemukiman dan perkantoran serta pusat perniagaan yang juga kelihatannya sudah diperhitungkan dengan baik. Kesadaran penduduk Malaysia memperlakukan kota mereka, tercermin dari geliat kepedulian dalam menata banyak hal. Sampah, parkir, pejalan kaki yang diberi ruang gerak cukup dan dianggap aman, dan banyak lagi.

Mudahnya saya dan kawan kantor saya, mendapatkan informasi. Padahal, hari sudah tengah malam, ketika pesawat Air Asia yang saya naiki, mendarat di LCCT. Ada cemas takut tidak bisa ke KL Central, tempat kami janjian, dan masih banyak lagi kuatir lainnya. Namun, ternyata semua baik-baik saja.

Dalam list cita-cita perjalanan kami, saya dan istri, Nepal memang menjadi salah satu destinasi berikutnya. Dari segala kota dan negara, Makah dan Nepal menjadi dua tempat yang menjadi prioritas utama kami. Saya yang memang hobi mendaki gunung, tidak munafik untuk menjadikan Negara ini tempat langkah kaki dipijakkan, seterusnya. Film-film yang membius saya lewat panorama yang luar biasa. Into Thin Air nya John Krakaur, merupakan buku yang saya baca justru di awal-awal kegilaan saya berpetualang. Aroma salju yang membekukan, terbayang didepan mata mana kala menyaksikan Chris O’Donnel berpacu dengan derasnya guguran salju di K2 dalam Vertical Limit. Tentu bukan liburan begitu yang saya mau, namun aroma kemegahan Everest dan kain sembahyang warna-warni yang melambai-lambai ditiup angin, dengan latar belakang langit biru, cukup membuat jantung berdegup kencang. Kapan waktu membawa kami kesana?

DSC_0460

Senja di Putra Jaya

Air Asia, dengan tiket promo dan pernerbangan murah, yang membawa jutaan orang melihat kehidupan lain di belahan bumi di Indonesia dan mancanegara, termasuk saya, membuat kita percaya, bahwa Slogan Tony Fernandes “ Now Everybody Can Fly” bukan hanya sekedar jargon marketing. Itu juga jembatan mimpi yang mengantarkan dari alam tidur ke dunia terang benderang bernama traveling.

Malaysia memang bukan kali pertama saya ke luar negeri. Di negara ini,  Tony Fernandes memulai mimpinya menerbangkan orang-orang dengan pesawat murah dan terjangkau. Dan ke sini pula, perjalanan saya bermula, untuk melihat ajaibnya dunia lain. Air Asia, merubah hidup saya. [ibm110814]

all photo by me | @boimakar

Advertisements
Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: