Wisuda Yang Tertunda (1)

congratulations-graduation-fortune-cookies.jpg.pagespeed.ce.370GGPYNi-Ini tentang cita-cita masa kecil yang kembali mengemuka. Tentang sebuah perjalanan hidup dalam keberuntungan-keberuntungan yang di dapat di usia muda. Kemudian menjadi tidak dinamis pada masa tua. Adalah cita-cita yang kemudian terbengkalai karena emosi masa remaja, dan tidak menjadi apa-apa ketika usia merangkak menembus kematangan dan kulit penuh kerutan.

Suatu hari, seorang kawan menasehati saya. Kau harus melanjutkan kuliah. Jangan berhenti disana saja. Indonesia tidak menerima dan mentoleransi manusia-manuasia tanpa sertfikat nilai di masa-masa mendatang. Peradaban akan berubah. Dunia kerja akan dipenuhi oleh serbuan kaum muda yang bergelar panjang di belakang nama mereka. Dan kau, akan hanya menjadi penonton di kursi roda atau tongkat yang menopang bungkuk, menyaksikan itu semua. Bukan orang tua yang berlibur dan bersenang-senang menunggu ajal yang kian dekat. Dan kemudian, pada suatu hari yang cerah.

Dan kemudian, kawan yang lain, memberikan nasehat yang tidak kalah bagusnya. Pekerjaan yang enak itu tidak datang dengan tiba-tiba. Dirintis dari mulai dibangku sekolah. Setelah itu, bagaimana kita menikmatinya. Semua tergantung dari diri kita. Berjuanglah lebih dahulu untuk menikmati kemudian.

Keberuntungan memang tidak datang berkali-kali. Ketika lulus SD, saya menerima beasiswa untuk masuk SMP hingga selesai dan begitupun ketika masuk SMK. Beasiswa 3 tahun saya terima. Lulus dari sekolah kejuruan, nasib baik membawa saya bekerja pada sebuah perusahaan Jepang, selama lebih dari lima tahun. Sempat mengecap bangku kuliah selama dua tahun, dan menyerah karena faktor keuangan yang harus ditanggung sendirian menghidupi keluarga. Mimpi menggunakan toga di tahun ke empat dan mendapat gelar saya kubur. Ada hal lain yang lebih penting saya lakukan ketika itu. Menyelamatkan dapur keluarga yang sering kali hampir padam tak berasap.

Persaingan hidup, membuat kedewasaan tumbuh dengan pesat. Membumbung tinggi ke luar jangkauan nalar. Dipertemukan dari satu lingkungan ke lingkungan lain, diperkenalkan dengan satu orang ke orang lain. Dengan latar belakang sosial dan pendidikan yang mapan. Sering kali iri. Wajar rasanya.

Tak ada gelar apapun. Dan saya harus kuliah lagi. [ibm070814]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: