Karimun Jawa, Gelisah Di Surga Wisata

Peta Karja [800x600]

Peta Kepulauan Karimun Jawa

Tidak bisa dipungkiri, Taman Nasional Karimun Jawa merupakan daerah kepulauan dengan eksotisme luar biasa menggoda. Hamparan terumbu karang, lanskap dan pemandangan matahari terbit dan tenggelam, pantai-pantai berpasir putih, selalu menggelitik untuk disambangi. Jutaan mata sudah menyaksikan keindahan panoramanya. Jutaan photo, lukisan, sudah mengabadikan keindahan ombak dan hamparan langit biru yang bertemu samudra luas di garis cakrawala.

Dampak pariwisata yang menggeliat belakangan ini, rupanya juga mengganjal di masyarakat lokal Karimun. Mereka yang penduduk asli, belum banyak  yang merasakan limpahan rejeki yang bertambah.

” Kalau di kotanya, memang berasa sekali mas. Tapi disini, rasanya biasa saja, tidak ada yang terlalu mencolok,” ujar pak Jumali, pemilik rumah yang kami tempati di pulau Kemujan. Jaraknya, sekitar satu setengah jam dari pelabuhan karimun ke arah barat.

Desa Kemujan, berpenduduk lebih sedikit dari Karimun. Penduduk lokal disini bercampur, antara Bugis, Makasar dan penduduk asli Karimun yang orang Jawa. Tidak ada pertanian di Karimun, imbuh pak Jumali, masyarakat mengandalkan laut dan sektor parwisata untuk bertahan hidup.

Dampak yang paling terasa, justru di sektor transportasi. Penduduk harus ikut antri tiket kapal, jika hendak menyebrang ke Jepara atau Semarang. Sementara resort-resort di Karimun Jawa, sudah pasti menyediakan paket yang termasuk sarana penyebrangan kapal. Bisa dibayangkan, bagaimana repotnya penduduk lokal Karimun Jawa, jika ada urusan mendesak, seperti sekolah, lamaran pekerjaan atau sakit berat dan harus diangkut ke tanah jawa. ” Sementara, kapal dari Balai Taman Nasional (BTN), harus dibayar sangat mahal. Tiga juta rupiah untuk sekali antar ke Jepara. Tidak termasuk pulang kembali ke Karimun,” ujar pak Aziz, menambahkan.

Kepulauan-Karimunjawa

pasir putih karimun Jawa

Lokal transportasi di Karimun Jawa, memang didominasi oleh sepeda motor. Nampaknya, hampir setiap penduduk disini, punya sepeda motor. Bahan bakar bensin memang termasuk mahal. Untuk satu liter bensin, di hargai sembilan ribu rupiah. Sementara untuk botol ukuran 1.5 liter, tidak penuh, Rp.10.000,-. Konsumsi masyarakat sendiri, beragam dan tidak merata. Untuk minyak solar kapal, satu drum besar harganya sekitar Dua Juta Rupiah.

Sore itu, kami bercakap-cakap menunggu waktu magrib di sebuah balai-balai dari kayu di bawah pohon seri rindang, didepan rumah pak Jumali. Diseberang jalan desa, ada masjid besar yang belum rampung sepenuhnya. Menurut informasi, ada bantuan dari caleg yang kebetulan mau bersusah payah kesini ketika masa kampanye kemarin. ” Lima juta! Dia ngasih segitu,” kata seorang lelaki kurus dan berkulit gelap, seraya menghisap dalam rokoknya.

Dampak pariwisata di Karimun Jawa, memang menyentuh seluruh penghuninya, dengan berbagai macam cara. [ibm060814]

Advertisements
Tagged , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: