Your Food Isn’t Your Waste (1)

8a8fe33fd487eafec070e2c43249c7445341011bSemua mahluk hidup tentunya perlu makan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan mereka. Namun, tahukah kawan, bahwa keberadaan pangan kita, terancam secara serius tahun demi tahun. National Geograpic Magazine selama delapan bulan ( dan masih berlangsung) menampilkan berita tentang ketersediaan makanan dan akses terhadap pangan secara kontinyu. Dalam kutipannya, pada tahun 2050, ada dua miliar mulut lagi yang harus diberi makan. Masuk akal, jika kemudian banyak hal diperebutkan untuk mengisi perut.

Mahalnya bahan pangan, tidak serta merta menghentikan kebiasaan buruk para konsumen untuk membuang makanan. Alur hidangan di meja makan yang panjang, dari petani di pedesaan, pasar, hingga tiba menjadi santapan, membuat sepertiga bahan pangan hilang atau terbuang. Tumpahan mimuman, sisa makanan, remeh-remeh, dan sampah makanan rata-rata keluarga di AS yang beranggotakan empat orang, mencapai satu metrik ton setahun. (natgeo-juli2014)

Food_waste

Eropa juga sedang gencar-gencarnya melakukan kampanye untuk menghentikan kebiasaan masyarakatnya membuang sisa makanan. Di Inggris, sebuah studi menyebutkan, 830 Euro pertahun perkeluarga membuang sisa makanannya. Dan ada hampir 60.000 ton sisa makanan terbuang setiap tahun.

Secara global, sekitar 1,3 miliar ton sisa makanan teruang menurut statistik PBB tahun 2013. Ini setara dengan sepertiga total pangan dunia. ( dw.de).

Ini tentu saja tidak menjadi  masalah lokal. Ini adalah issue sedunia yang harus dicarikan solusinya. Beberapa ritel, sudah mengembangkan solusi yang mampu mereduksi sampah pangan. Mengolahnya menjadi sesuatu yang bisa dimanfaatkan kembali. Namun, tentu saja, permasalahannya tidak selesai sampai disana. Yang harus kita ingat, juga adalah rantai distribusi makanan untuk bisa sampai ke meja makan kita. Proses yang panjang, yang mengabiskan tidak saja energi, minyak, dan sumber alam untuk memproduksinya.

easelly_visual-1-kopieSetelah di pembuangan sampah, makanan ini juga masih menimbulkan masalah. Gas Metan, gas rumah kaca yang ditimbulkan memberikan kontibusi besar terhadap perubahan iklim global. Ada 3,3 miliar gas rumah kaca yang dihasilkan oleh 1,3 milliar ton sampah makanan, menurut FAO. Fakta yang cukup buruk untuk kita dengar, bukan? Dan pembusukan dari sampah itu, menghasilkan bau menyengat yang berdampak serius bagi lingkungan dan kesehatan kita.

Dari diri sendiri, kesadaran untuk mengambil hanya makanan yang kita butuhkan saja, menjadi perlu. Pada saat pesta misalnya, kita sepatutnya hanya mengisi piring kita dengan makanan secukupnya. Tidak menimbun dalam piring dan sehingga terbuang karena tidak habis. Atau dirumah, memasak makanan secukupnya saja, hingga tidak ada makanan yang terbuang karena tidak terkonsumsi dengan baik. Mengkonsumsi makanan secara benar, juga berarti penghematan uang, penghematan energi karbon dan minyak, serta menyelamatan lingkungan jangka panjang. Dan makanan yang kita buang, juga menjadi hak sebagian penduduk bumi yang mempunyai keterbatasan akses kepada makanan layak.

Bagaimana dengan Indonesia sendiri? [ibm/240714]

Advertisements
Tagged , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: