Sahur On The Road Yang Fenomenal

bfa3137b4dbb82099fe3ba334c2e344d

Buat orang Jakarta, istilah Sahur On The Road ( SOTR) memang bukan istilah baru. Dari tahun ketahun selama bulan puasa, kegiatan ini banyak dilakukan oleh kaum muda Jakarta dengan membentuk kelompok-kelompok dan turun ke jalan. Dari yang berjumlah belasan, hingga ada yang bisa mencapai ratusan. Dari hanya jalan kaki sepanjang komplek, hingga ada yang menggunakan ratusan sepeda motor, membelah jalan-jalan protokol.

Namun, dari manakah asal muasal kegiatan ini terjadi? Tidak ada yang tau pasti, kapan bermula. Yang pasti, berbagai komunitas masa pernah dan terus melaksanakan kegiatan, yang tidak hanya sekedar membagi-bagikan makanan ini, namun jadi ajang “gaul” bagi sebagian orang. Tujuan awalnya memang mulia, berbagi makan dengan siapa saja, yang ada di jalanan ketika waktu sahur tiba. Baik karena pekerjaan, seperti penyapu jalanan malam, polisi yang bertugas, satpam yang tidak sempat membeli makan sahur, penjaga palang pintu kereta api, gelandangan dan orang-orang yang tidak punya rumah, dan lain sebagainya.

Meski begitu, SOTR kerap kali menjadi biang kericuhan malam ramadhan. Dikala orang-orang mulai tidur, sehabis tarawih dan ibadah malam, rombongan mereka keluar ke jalanan. Paling banyak, dengan menggunakan sepeda motor. Ratusan pengendara remaja, berkonvoi membalah jalanan yang hampir sepi, dini hari. Bunyi klakson ditekan berulang-ulang. Knalpot sengaja di bobok, hingga menghasilkan suara yang lebih berisik. Jangan ditanya masalah keselamatan. Kebanyakan dari mereka, malah tidak menggunakan helm atau jaket. Dengan artibut perkumpulan masing-masing, bendera dan lain sebagainya, mereka turun ke jalanan.

Tingkah polah mereka yang arogan, sering kali membuat jengkel. Memotong jalan seenaknya, atau menghalangi pengendara lain, sudah kerap terjadi. Belum lagi, sumpah serapah yang keluar dari rombongan SOTR bila ada pengendara lain melintas, dan tidak mau minggir. Tak jarang, justru mereka saling sikut di jalanan.

IMG_4630

Parahnya, prilaku ugal-ugalan dan cenderung ke arah premanisme peserta SOTR, banyak ditiru oleh kaum ABG yang sedang panas-panasnya. Dari pemberitaan media, dari sekedar berkonvoi dengan knalpot dan klakson berisik, mereka malah sudah melakukan tindakan anarkis. Merusak fasitlitas umum, seperti melempari halte transjakarta, mencorat-coret dan menmpel stiker-stiker di fasilitas-fasilitas umum, merusak kantor di Jakarta pusat, dan banyak ulah lagi yang meresahkan. Kecelakaan dan tewasnya peserta SOTR di Kebayoran Baru, tidak menyurutkan minat muda-mudi menyusur malam ramadhan dengan polah anarkisnya.

Yang paling menghebohkan, ketika dua kelompok SOTR saling tawuran dan penganiayaan beberapa pemuda, hingga kasus penusukan. Ini kriminal. Polisi memang sudah bertindak tegas. Namun, para pengendara malam SOTR, seperti tau betul, kapan dan dimana polisi akan melakukan razia. Hingga, mereka akan mencari jalur alternative untuk bisa turun kejalan.

Mudhorotnya, lebih banyak dari pada manfaatnya, bukan? Niat baik mereka, justru kemudian berubah jadi ajang kemaksiatan. Mereka seperti, menodai bulan suci ramadhan, dengan perbuatan yang tidak baik. Menggangu ketertiban umum, merusak fasilitas, bahkan tawuran dan saling tikam.

Jadi, lebih baik sahur di rumah dengan keluarga tercinta. Pasti ibadah puasanya lebih khusuk. [ibm/210714]

photo:google

Advertisements
Tagged , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: