Ramadhan dan Konumserisme Mendadak

Ramadhan : Mendadak Butuh

Hari pertama bulan ramadhan tahun ini, kami habiskan dengan berbelanja pada sore hari ke sebuah supermarket dekat rumah. Selain karena memang sudah waktunya untuk belanja bulanan, yang hari ini bertepatan dengan hari pertama puasa, juga karena memang ada sesuatu yang akan kami beli.

p31-08-08_1559

Mulanya, agak ragu juga, ketika melangkah ke melintasi parkiran mobil, begitu ramai kendaraan diparkir disana. Jauh dari kebiasaan kami yang hampir setiap bulan selalu kesini. Bahkan, beberapa mobil mengular diluar palang parkir otomatis karena menunggu ada yang keluar. Betapa sibuknya, orang-orang ini, batin saya. Atau mungkin karena waktu berbuka sudah hampir dekat? Padahal ini baru jam dua lebih sedikit.

Supermarketnya ada dilantai dua. Memasuki lobby, udara sejuk menerpa muka kami yang kepanasan sehabis dari kendaraan umum, yang sudah hampir tidak layak jalan. Bus hijau kusam bernomor 43 jurusan Cililitan – Tanjung Priok itu, kelihatan begitu letih. Kursi-kursi yang rusak. Pegangan gantungnya, sudah semuanya ludes. Menyisakan tali-tali nya saja. Jendela berdebu tebal dengan kaca yang sepertinya sudah tidak bisa di geser naik turun, seperti aslinya, karena sudah macet dan rusak. Bus PPD nomor 43 ini, setiap hari berlari berlomba bersama di kemacetan Jakarta. Rutenya, cukup jauh. Dari Terminal Cililitan di Jakarta Timur, melewati UKI – Jalan Sutoyo – Bay Pass Rawamangun – Cempaka Putih – Sunter sampai ke Tanjung Priok di Utara. Kondisi bus eks Jepang ini, rata-rata sudah memprihatinkan. Tua dan letih.

AxgRCvvCQAE_a9I.jpg large

Didalam pasar swalayan, riuh nya bukan main. Anak-anak hingga orang dewasa berjubel tumpah di lorong-lorong yang memajang barang-barang dengan tulisan “SALE” besar-besar. Promo-promo menjelang lebaran, memanggil-manggil para pengunjung. Angka-angka diskon menjebak dan memanjakan para pembeli.

Serunya lagi, beberapa barang yang jarang sekali ada ketika hari-hari lain, dengan ajaib bertumpuk pada display-display yang berjejer rapi dikerubungi ibu-ibu yang sangat cekatan. Kurma salah satunya. Stan ini selalu penuh dengan ibu-bu dan para pembeli. Kemudian sirup aneka rasa. Berbotol-botol sirup ludes dengan cepat. Bahkan sang penjaga toko, harus bolak balik mengisi tempat pajang, ketika saya berhenti untuk memperhatikan.

Begitu juga dengan buah-buahan. Bangkoang, timun suri, mangga, jeruk, dan segala macam buah untuk membuat esbuah atau kolak, laris manis masuk keranjang dorong. Menjelang buka puasa begini, nafsu makan bertambah dengan cepat. Makanan apapun, akan kelihatan enak. Membayangkan es jeruk dan buah korma yang banyak, betapa menggiurkan.

Saya bicara ke istri saya, mereka kelihatan begitu butuh dengan benda-benda yang mereka beli. Sirup yang pada bulan lain, nampaknya tidak akan selaris di bulan puasa. Bahkan beberapa orang reala berdengsak-dengsakan untuk mendapatkan sirup berwarna merah. Padahal ditangannya sudah ada dua botol warna kuning dan hijau. Estetika juga perlu dalam menyajikan makanan, pikir saya.

Antrian kasir, belum lagi. Panjang betul. Semua kasir beroperasi. Namun masih belum bisa meredam antrian yang begitu banyak. Di depan saya, sekeluarga, Ibu yang  mondar-mandir mencari tambahan belanjaan, beberapa kali datang dengan sirup botol, kemudian pergi lagi, dan menenteng kolang-kaling, kemudian pergi lagi dan membawa sekotak kue kering, dan pergi lagi kemudian kembali dengan sebotol kecil madu, sementara sang suami mendorong keretanya, ditemani anak lelakinya yang berusia sekitar empat tahun duduk didalam keranjang dorong, dan sang kakak, perempuan, berkacamata dan berkerudung hitam, berusia sepuluh tahunan, yang duduk kelelahan disebuah tangga geser yang belum dipakai. Repot betul mereka.

Ramadhan, selalu membawa berkah kepada siapapun. Muslim dan non muslim. Betapa barang dagangan pada masa sekarang ini menjadi laris manis tidak terbendung. Betapa orang-orang yang berpuasa seperti butuh kepada banyak macam. Mendadak butuh.

Sementara istri saya mencari sesuatu yang belum dapat, saya mendorong kereta belanjaan kami ke arah kasir yang tidak pernah istirahat.

Awas nafsu syaitan. (ibm10714)

Advertisements
Tagged , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: