Taksiku Sayang, Aku Yang Malang

Menjadi penduduk Jakarta, rasanya semua moda transportasi sudah pernah kami coba. Transjakarta, yang dulu adalah andalan saya, sekarang nampaknya tidak lagi menjanjikan. Banyak sekali kesemerautan yang membuat transportasi ini menjadi, amat sayang, kelihatan tidak lagi menjadi alternative yang baik.

Image

Jika mau lebih nyaman, cobalah taksi. Ongkosnya memang cukup lumayan. Taksi, di Jakarta jumlahnya ribuan. Menurut lansiran media, tahun 2013, jumlah taksi yang beroperasi di Jakarta tersedia 37 ribu unit. Dengan jumlah penduduk Jakarta yang mencapai 14ribu orang. Konon, jumlah ini jauh lebih kecil jika disbandingkan dengan Negara tetangga kita, Singapura yang mempunyai 45 ribu armada taksi untuk sekitar 5,4 juta penduduk. 

Belakangan, saya searing mengeluhkan para pengemudi taksi yang sering kali membuat berang. Rupa-rupa saja kasusnya. Dari pengalaman sendiri, saya mencoba memecah beberapa masalah yang sering kali dijumpai.

  1. Jarak Pendek, Tidak Mau!

Suatu hari, tengah malam, sepulang dari bandara Sukarno Hata, saya naik Bus Damri  Bandara-Pulo Gadung, dan turun di Cempaka Putih. Dari sini saya, bermaksud melanjutkan dengan taksi kea rah rumah saya, di daerah rawasari.

Saya menyetop beberapa taksi secara acak. Asal taksi yang punya call center jalas dan merk yang kami kenal, tak apalah.Namun dari beberapa taksi yang kami berhentikan, mereka menolak mengantarkan kami. Ada yang bilang, tidak searah, mau istirahat, mau pulang, rupa-rupa saja alasannya. Namun yang jelas, jarak pendek buat mereka tidak masuk dalam hitungan antaran penumpang. Meski kemudian, ada juga yang mau mengantarkan, rasanya, cukup banyak sopir taksi yang menolak.

Kejadian lain, malah hari juga, dari Halte Transjakarta Dukuh Atas, saya bermaksud naik taksi ke rumah. Beberapa taksi berbanjar di seberang halte, menunggu penumpang. Begitu kami menghampiri, beberapa supir taksi yang masih mangkal  itu bertanya, “kemana, pak?” saya menjawab tujuan saja pulang. Beberapa mereka, cuek saja. Namun ada yang kemudian menjawab, “ situ yah, ayo deh!”

Dimata saya, itu seperti ucapan tidak ikhlas dari seorang sopir taksi. Tidak santun.

Anda pernah?

  1. Sok Tau Jalan. Muter-muter.

Diajak muter-muter, rasanya bukan permasalahan baru bagi para penumpang taksi. Apalagi bagi mereka yang beru pertama kali dating, dengan tidak memberikan arahan jalan yang dimau. Karena tidak kenal kotanya. Maka mereka menyebutkan alamat tujuan kemudian berkata, terserah, yang cepat saja, kepada supir taksinya. Ini adalah mangsa empuk. Supir-supir taksi yang nakal, sudah bisa mengendus kalau yang naik ini, orang yang tidak tahu jalan. Dan sebagai pancingan, mereka akan memberikan saran yang sedikit jauh, dengan berbagai macam alasan. Macet misalnya.

Walhasil, penumpang akan diajak muter-muter. Ini tidak fiktif. Saya yang orang Jakarta, pernah juga mengalami. Ketika kembali dari Blok M menuju rumah, saya bilang ke Pak Sopir arah rumah saya, di Rawasari. Sambil melaju, saya menyarankan untuk lewat Tendean kemudian lurus ke MT Haryono dan menuju bay pass jalan Caw[ang. Pak taksi, tak menjawab, namun, kemudian dia tidak sesuai dengan arahan. Dia lewat ke Pancoran dan lurus ke arah Tebet lalu  Pasar Rumput. Macet luar biasa. Waktu ditanyakan, dia santai saja bilang, tadi enggak! Agh, jika Bay Pass macet, saya mungkin akan cuek saja, tapi karena dia tidak mendengarkan arahan, rasanya jengkel luar biasa.

  1. Uang Kembalian

Ini yang sering sekali terjadi. Uang kembalian yang tidak dikonfirmasi oleh penumpangnya. Diambil tanpa persetujuan. Anggap saja argo harga yang ada di dashboard taksi menunjukkan angka 35300. Kemudian, kita membayar dengan uang pecahan lima puluh ribu rupiah. Seringkali uang kembalian kita adalah Rp. 10.000,- saja.

Jadi sebenarnya ada uang sisa Rp. 4700 yang tidak dikonfirmasi ke penumpang. Seringkali, kita tidak punya uang receh untuk membayar pas ke taksi. Namun, belakangan, ini menjadi modus juga. Dengan dalih tidak ada kembalian, mereka pasti akan memberikan uaang kembalian itu utuh.

  1. Tembak Argo

Ini juga yang sering sekali terjadi. Argo tembak. Anda menyetop taksi, menyebutkan tujuan, dan si sopir akan langsung menembak harga ke calon penumpangnya.

Beberapa kali, saya menelepon ke call center sebuah armada taksi tariff bawah, karena pernah mengalami hal semacam ini. Dari penjelasan mereka, hal itu tidak dibenarkan, dan armada yang bersangkutan bisa dikenakan sangsi yang tegas. Menurut mereka, penumpang itu harus tetap dilayani, dan tetap mendapatkan harga argo.

Image

Kejadian-kejadian diatas, seringkali membuat saya membandingkan dengan moda transportasi serupa dinegara tetangga. Malaysia, tidak lebih baik memang. Disana, taksi harus ditawar. Namun, moda transportasi lainnya, MRT, Monorail, kereta api, semuanya tertata dengan baik.

Jika moda transportasi paling mahal  sekalipun, sudah tidak menyangkan, dengan apa kami harus bepergian di Jakarta? Kendaraan pribadi dan menyumbang kemacetan? [ibm-25614]

Advertisements
Tagged , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: