Menjadi Pendaki Pemula

Image

Olahraga mendaki gunung, sepertinya memang tidak pernah ada matinya. Dari jaman pertama kali dilakukan, tidak pernah sepi peminat. Keindahan gunung-gunung dengan segala cerita yang menghiasainya seperti sudah menjadi daya magis yang kuat untuk menarik para pendaki muda mencoba untuk menjajagi kegiatan ini. Siapa pula yang mau dengan rela, melepaskan pemandangan indah danau segara anak di gunung rinjani? Danau ranu kumbolo di gunung Semeru? Atau mungkin keindahan gunung-gunung lain di dunia? Di Indonesia sendiri, pendakian gunung menyedot animo begitu banyak kalangan. Remaja, orang tua, bahkan anak-anak. Rela berdingin dan berpeluh-peluh demi memuaskan keinginan menjadi pendaki gunung. 

Udara sejuk, hutan hujan lebat dengan trek pendakian yang beragam, seolah menawarkan sensasi pacu adrenalin yang pantang dilewatkan oleh jiwa-jiwa muda yang sedang gagah-gagahnya. Kemudian berphoto dipuncak gunung, atau dibagian keindahan lain gunung-gunung tersebut dan diunggah ke media sosial, seolah menjadi hal wajib yang harus pantang untuk dilewatkan. Seolah menjadi kewajiban. Nah, media sosial pulalah yang kemudian menajdi semacam pemicu sehingga kegian ini menjadi sangat diminati di Indonesia. Tidak heran, pendaki-pendaki, bisa dipastkan berkumpul digunung manapun di Indonesia. Gunung tidak lagi terasa terlalu susah atau terlalu tinggi untuk didaki.

Ribuan anak muda, sekarang sudah menjadi pendaki. Atau setidaknya, sudah merasa menjadi pendaki gunung. Media sosial yang gencar sekali menayangkan kegiatan ini, turut andil dalam terbentuknya euforia pendakian. Film, dan nyanyian tentu saja tidak bisa kita kesampingkan.

Maraknya kegiatan pendakian gunung, bukan tanpa akibat. Selalu ada hal yang ditumbulkan dari meledaknya animo para pendaki pemula. Yang paling Nampak jelas adalah, gunung-gunung menjadi semakin kotor, seperti tempat sampah yang kian hari, kian menghawatirkan. Dampak yang lain diantaranya makin tidak terjaga keaslian gunung-gunung tersebut. Coretan-coretan vandalism, hamper pasti bisa ditemui di segala penjuru gunung. Belum lagi, rusaknya ekosistem dikarenakan kurangnya kepedulian dari para penikmat alam itu, atau malah mungkin karena ketidaktahuan mereka.

Yang paling menghawatirkan dari semuanya, adalah banyaknya korban yang jatuh digunung. Seperti sebuah lingkaran yang terus berputar-putar, kian hari, bertambah panjang korban kecelakaan karena pendakian gunung. Banyak motif memang. Namun, rata-rata yang mengalami naas adalah pendaki-pendaki pemula yang memang, tidak diimbangi dengan pengetahuan yang cukup. Rasa ingin tahu, egoism masa muda, dan lain sebagainya, menjadi pendorong kuat untuk bisa berdiri dipuncak tertinggi.

Sampah

Tak hanya diperkotaan saja, masalah paling udzur dan paling klasik dari kegiatan yang satu ini, tentu saja sampah. Seperti sudah menjadi rahasia umum, populasi sampah digunung menjadi tidak terbendung, dengan banyaknya pendaki-pendaki yang giat melakukan aktifitas pendakian.

Sebagian besar sampah yang menjadi pencemar lingkungan gunung-gunung, adalah sampah konsumsi. Bekas bungkus makanan yang enggan dibawa pulang atau di bawa turun kembali oleh para pendaki. Alasannya beragam. Dari yang tidak tahu, tidak peduli, atau bahkan tak mau tahu tentang tuntutan menjaga lingkungan.

Banyaknya sampah, tentu saja mengkawatirkan. Meski ratusan pendaki, gemar melakukan operasi bersih, semacam kegiatan untuk memulung sampah yang ditinggalkan pendaki lain, dari gunung dan membawanya turun, namun rasanya ini belum cukup menjadi solusi. Sampah di gunung masih tetap banyak dan membutuhkan perhatian ekstra. Kesadaran dari para pendaki itu sendiri tentu saja menjadi hal dasar yang harus dipupuk dari sejak dini. Kesadaran ini yang kemudian menjadi sangat mahal harganya. Dan tentu saja harus dibangun dan di pelajari sedikit demi sedikit dari diri sendiri.

Jika kesadaran untuk menjaga lingkungan sudah tumbuh, niscaya gunung akan menjadi tempat yang lebih menyenangkan, tanpa harus diganggu dengan timbunan sampah dan bau yang dihasilkan.

Beberapa tahun yang lalu, sebuah operasi bersih di Gunung Gede Pangrango, mengangkut lebih dari 100 ton sampah yang dihasilkan para pendaki. Bayangkan saja. Ini baru satu gunung. Dan dalam kurun waktu pelaksanaan Operasi Bersih yang berulang. Jika dibiarkan, bukan saja merusak, sampah itu akan menjadi sarang penyakit dan bisa menjangkit tidak hanya pendaki, tapi tentu saja masyarakat sekitar yang memanfaatkan juga air dari gunung.

Banyak dari para penggiat kegiatan alam ini, tidak mengetahui bahwa sampah yang mereka tinggalkan akan berdampak luar biasa dalam ekosistem maupun lingkungan gunung itu sendiri. Plastik yang baru dapat terurai ratusan tahun, tentu saja menghambat proses-proses pembusukan tanah. Dan tentu saja berakibat buruk bagi kesuburan tanah. Kurang nya pengetahuan ini, berdampak buruk bagi kebiasaan pendaki pemula dalam pendakian gunung.

Kurang Persiapan

Jangan melihat fisik para pendaki. Seorang dengan badan bak peragawan pun, bisa saja tumbang di gunung. Namun, pendaki dengan fisik yang besar atau gemuk, ternyata berhasil menyelesaikan pendakiannya dengan senyum dikahir perjalanan. Pendaki berumur setengah baya, juga bisa santai menapaki jalan-jalan pendakian, dan seorang anak muda, harus rela terseok-seok dan di antar turun pada saat mendaki.

Peminat olahraga ini yang semakin besar, ternyata tidak diimbangi dengan minat belajar oleh para pelakunya. Belajar dalam arti kata sebenarnya. Mempersiapkan segala keperluan sebelum pendakian.

Lalu apa saja persiapan yang harus dilakukan sebelum pendakian gunung?

Yang pertama harus disiapkan tentu saja fisik dan mental. Tanpa kesiapan dua hal ini, sebuah pendakian gunung hanya akan jadi cerita tidak menyenangkan. Pendakian gunung hanya akan menjadi siksaan letih dan lapar disertai dingin yang membekukan atau panas yang membakar kepala. Fisik yang tidak prima, membuat para pendaki tidak bias menikmati keindahan alam yang disajikan dengan maksimal. Jika tubuh sakit, tentu saja, pemandangan indah menjadi tidak begitu menyenangkan, bukan?

Persiapan yang lain adalah mental. Gunung adalah tempat yang sangat berbeda dengan keseharian kita. Secara kontur, gunung merupakan tempat yang sangat ekstrim. Hutan yang sangat lebat akan dengan mudah membuat panik. Dingin dan gelap bagi kebanyakan orang, merupakan momok yang sangat menakutkan. Bukan itu saja, sering kali, cerita-cerita mistis yang dihembuskan sesame pendaki, mendapat tempat sendiri dalam otak, hingga menstimulasi menjadi sesuatu yang sering kali salah kaprah disikapi.

Yang paling mendasar dari kesiapan mental itu sendiri, tentu saja, bahwa pera pendaki dengan sadar menempatkan diri mereka dalam olahraga yang memang membutuhkan kesiapan khusus. Medan yang terjal, udara dingin, basah kuyup, ditambah dengan keletihan yang sangat, sering kali membuat para pendaki pemula tidak siap untuk berhadapan dengan hal tersebut. Akibatnya, tubuh menjadi lebih gampang drop. Berbagai macam penyakit ketinggian lebih mudah menyerang pendaki-pendaki dengan kondisi mental yang lemah.

Selain itu, persiapan lain yang perlu dilakukan adalah persiapan pengetahuan dan alat-alat pendakian.

Dalam persiapan alat, ada prosedur yang harus diikuti agar pendakian menjadi aman. Ini disebut sebagai alat pendakian dengan standar keselamatan. Pemilihan alat, tidak boleh melenceng dari standar keselamatan tersebut.

Sepatu salah satunya. Dalam pendakian, sepatu bersifat mutlak. Para pendaki pemula, biasanya tidak melulu menggunakan sepatu dalam pendakian. Mereka, lebih sering memakai sandal, karena dirasa lebih simple dan lebih ringan. Padahal, tentu saja ini tidak benar. Sandal gunung, adalah istilah marketing yang dihembuskan ke pasar, untuk menarik minat para pendaki gunung yang mempunyai budget rendah dan belum mampu membeli sepatu, agar dapat tetap menjalankan hobi atau kegiatan ini. Paha mini, tentu saja berbahaya. Karena sandal gunung sendiri, memang tidak pernah ada. Dan tidak dibenarkan untuk memakainya selama pendakian gunung. Sandal hanya dipakai pada saat berhenti bergerak saja. Di tempat berkemah, misalnya.

Sebagai pendaki gunung pemula, sikap mental yang harus dimiliki tentu saja kesadaran tentang keselamatan akan diri sendiri. Ini menjadi tanggung jawab pribadi. Jangan pernah menyerahkan keselamatan kita kepada kawan seperjalanan. Itulah, kenapa kemudian pengetahuan dasar tentang keselamatan menjadi penting.

Pemilihan alat-alat pendakian, tentu saja tidak bersifat mutlak. Ada kalanya, pendakian gunung mempertimbangkan kepada tingkat kebutuhan alat-alat itu sendiri. Jaket dengan spesifikasi pendakian gunung salji, belum tentu cocok dipakai di gunung-gunung Indonesia.

Yang harus diperhatikan selanjutnya, tentu saja kesiapan pengetahuan tentang pendakian gunung itu sendiri.Dewasa ini, banyak dari para pendaki pemula itu, hanya mengandalkan kepada keingintahuan, perasaan penasaran yang sangat tinggi, dan sikap coba-coba tanpa diimbangi dengan pengetahuan yang cukup. Setidaknya, seorang pendaki pemula tau perihal awal, gunung tempat yang akan didatangi. Kemudian, mempelajari secara seksama karakter gunung tersebut. Banyak sekali artikel atau catatan perjalanan yang sudah di unggah ke media social dan internet belakangan ini. Untuk mendapat referensi tentang tempat tertentu, rasanya bukan perkara yang sulit. Persoalannya, hanya mau tidak mau, atau peduli tidak peduli.

Dengan ksesadaran yang tinggi, tentu saja pendakian gunung menjadi olahraga yang menyenangkan. Alam, tidak akan pernah berusaha untuk bersahabat dengan kita. Sebagai tetamu, kitalah tentu saja yang harus menyesuaikan dengan alam. Pengetahuan dasar keselamatan pribadi, ditunjang dengan pemilihan perlatan yang tepat, tentu saja akan membawa sikap mental dan fisik yang mendukung dalam sebuah petualangan.

Lupakan kata-kata penasaran. Lupakan kata-kata ingin sekedar mencoba. Naik gunung, adalah olah raga dengan tingkat persiapan yang matang dan tinggi. Namun, dengan ketelitian dan sikap mental yang baik, tentu saja, olah raga ini menjadi menyenangkan. Selamat mendaki gunung. Tetap junjung tinggi keselamatan. (IBM-200614)

Advertisements
Tagged , , , , , ,

2 thoughts on “Menjadi Pendaki Pemula

  1. bluetripper says:

    sekedar menambahkan..
    7 kesalahan yang sering dilakukan pendaki pemula
    http://goo.gl/Q5bPjk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: